Mengukuhkan Universitas Konservasi

Kamis, 6 Juni 2013

Oleh Fathur Rokhman

ADA tiga pekerja bangunan yang dengan giat membangun rumah, tanpa peduli terik matahari. Seorang kakek tua melintas di hadapan mereka. “Apa yang sedang kamu kerjakan?” tanya kakek pada pekerja pertama.
Pekerja itu menjawab ketus, “Apa kakek tidak lihat? Saya sedang mengaduk semen.”

Kakek bergeser dan menanyakan hal serupa pada pekerja kedua. “Saya sedang kerja supaya dapat upah buat menghidupi anak dan istri,” jawabnya. Pertanyaan yang sama kembali diberikan kepada pekerja ketiga. “Apa yang sedang Anda kerjakan?”Pekerja ketiga menjawab, “Saya sedang membangun sebuah rumah. Kelak kalau sudah jadi, rumah ini akan menjadi rumah terindah sehingga penghuninya akan merasa nyaman dan bahagia.” Kakek itu, yang ternyata pemilik proyek, tersenyum melepas napas lega. Cerita di atas telah beredar dari milis ke milis dengan berbagai varian. Tak hendak menghandirkan drama, cerita itu hanya coba mengetuk kesadaran batin kita soal hakikat bekerja. Sebuah pekerjaan bisa tampak sama, tapi hasilnya bisa berbeda karena dilakukan dengan niat beda. Inama a’malu bi niyat.

“Kelas” terendah dalam pekerjaan adalah mereka yang sekadar menggerakan otot. Ini membuat seseorang tampak seperti robot yang meski terus berproduksi tapi tak pernah tahu manfaat pekerjaanya. Selanjutnya adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, pekerja seperti ini menjadikan imbalan sebagai tujuan. Produktivitasnya bergantung pada imbalan. Akibatnya: tak ada karya jika tak ada dana.

“Kelas” berikutnya adalah pekerja yang bekerja dengan hati. Jenis pekerja ini tak lagi hirau pada imbalan, sekalipun itu hak. Mereka fokus pada nilai pekerjaan. Motifnya bukan pribadi semata, tapi kebermanfaatan bagi sesama. Kualitas dirinya ditunjukkan bukan lewat kata, melainkan karya yang berguna. Umumnya, pada pekerja jenis ini, imbalan melimpah yang diterima bukan karena sengaja didapatkan, melainkan konsekuensi.

“Sebuah pekerjaan bisa tampak sama, tapi hasilnya bisa berbeda karena dilakukan dengan niat beda. Inama a’malu bi niyat.”
– – Fathur RokhmanCita-cita Konservasi

Sejak 2010 Universitas Negeri Semarang (Unnes) menetapkan visi universitas konservasi. Lengkapnya, universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat unggul dan sejahtera. Cita-cita ini dideklarasikan Prof Sudijono Sastroatmodjo MSi bersama unsur pimpinan dan mahasiswa dengan disaksikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh.

Visi menjadi Universitas Konservasi tak semat-mata menggambarkan imajinasi gigantis para pengelola universitas, melainkan “ambisi” untuk berbagi. Sebab, capaian tertinggi visi ini bukan lembaga itu sendiri, melainkan manfaat bagi umat. Dalam sejumlah referensi, umat sebagai noun tidak didefinisi sebagai warga sebuah komunitas secara sempit, tapi sekalian manusia. Maka, adalah niscaya bagi Unnes untuk mengembangkan diri menjadi lembaga keilmuan yang memiliki reputasi internasional.

Untuk menuju ke sana, konservasi Unnes harus berbasis riset dan inovasi keilmuan yang bermuara keunggulan setiap fakultas di Unnes. Keunggulan konservasi Unnes adalah konservasi yang ditopang oleh kreativitas kinerja keilmuan dosen dan mahasiswa di setiap fakultas serta ditopang oleh layanan prima tenaga kependidikan. Mengapa riset dan keilmuan? Sebab, “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar: 15)

Tiga tahun terakhir sudah banyak hal dilakukan Unnes bersama masyarakat. Bukan sekadar mewujudkan lingkungan yang nyaman secara fisik, melainkan juga secara batin. Bersama masyarakat Unnes terus menghidupkan “lilin” imajinasi terwujudnya kehidupan yang nyaman, harmonis, dan optimis.

Meski begitu, harus diakui, ada beberapa catatan yang perlu diingat untuk mengakselerasi laju konservasi. Pertama, konservasi harus menjadi gagasan masyarakat luas, tidak eksklusif di komunitas akademik. Hanya dengan cara itulah daya dobrak konservasi bisa mengindonesia, bahkan mendunia. Konskuensinya, konservasi perlu diterjemahkan kembali dengan bahasa masyarakat.

Soal konservasi moral, misalnya, seluruh lapisan masyarakat mengidamkan kehidupan yang tentram dan harmoni. Moral adalah perangkat batin agar kehidupan ideal semacam itu bisa diwujudkan dengan partisipasi tiap orang. Untuk menuju ke sana, Unnes tak bakal bisa berdiri sendiri. Tugas Unnes adalah membumikan semangat konservasi moral agar detaknya dirasakan oleh masyarakat luas. Moralitas jadi PR besar, sebagaimana telah diamaantkan Tuhan kepada para rasulnya untuk “memperbaiki akhlak”.

Dalam hal semangat partisipasi, saya kira Wikipedia adalah contoh yang baik. Wikipedia kini jadi “jurnal” paling lengkap dan populer di dunia. Manfaatnya dirasakan miliaran warga bumi. Keberhasilan Jimmy Walles, sang pendiri, bukan berkat keahliannya pada satu bidang, tapi membumbungkan semangat kontribusi masyarakat. Kontributornya pun bukan para pakar, tapi warga biasa yang beriktikad baik untuk berbagi. Semangat partisipatif itulah yang kini membuat Wikipedia jadi “bank pengetahuan”.

Kekuatan Rembug

Masyarakat akademik mengenal diskusi sebagai ikhtiar keilmuan. Dalam tradisi Jawa diskusi kerap disinonimkan dengan rembug. Konservasi, ke depan, harus ditopang dengan tradisi rembug yang lebih baik. Tak sekadar jadi sarana bertukar gagasan, rembug efektif membangun imajinasi ideal. Edmund Husserl, bapak fenomenologi asal Jerman, pernah mengungkapkan salah satu ciri dasar akal budi manusia adalah kemampuannya untuk berkembang melalui rembug.

Bagi Unnes, rembug adalah keniscayaan. Karena, pertama, lembaga ini adalah lembaga publik. “Pemegang saham mayoritas” lembaga ini adalah bangsa Indonesia. Membangun komunikasi dengan “pemilik” saham adalah keharusan agar aspriasi mereka terserap dengan baik. Menyerap, memilah, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat dalam bentuk kebijakan hanya bisa dilakukan memalui rembug.

Kedua, dunia pendidikan bergerak sangat dinamis belakangan ini. Siapa pun merasa berhak bicara pendidikan karena jangkauan bidang ini memang sangat luas. Gagasan-gagasan pun terus bermunculan, baik di tingkat filsafat, konseptual, maupun praksis. Sebagai mitra masyarakat dalam bidang pendidikan, Unnes juga dituntut dinamis. Rembug, sebagai jalan dialogis mengatasi masalah, harus ditempuh untuk gagasan di bidang pendidikan yang terus berkelindan.

Dalam percaturan pendidikan Tanah Air, Unnes adalah “skuad utama” –meminjam istilah sepak bola. Ekspektasi publik akan terwujudnya pendidikan berkualitas juga merupakan tanggung jawab Unnes. Sebagaimana sepakbola, tak pernah ada pemain tunggal. Maka, untuk meraih kemenangan diperlukan kerja sama. Di sinilah Unnes akan membangun kemitraan sinergis secara vertikal dan horizontal, dengan masyarakat, sesama lembaga pemerintah, juga masyarakat internasional.

Semoga Allah SWT, Tuhan yang Maha Pemilik Kehidupan meridai kinerja konservasi kita semua. Salam konservasi…

–Prof Dr Fathur Rokhman M Hum, Rektor Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s